Wednesday, August 10, 2005

Bill Clinton Book My Life

Bill Clinton Book My Life

My Life -- Bill Clinton

Dua hal sering dikaitkan dengan kepresidenan Bill Clinton, yaitu kondisi ekonomi Amerika Serikat yang baik dan kasus Monica Lewinsky yang menggemparkan. Tapi, mengapa Bill memakai nama keluarga ayah tirinya, bukan nama ayah biologisnya?

Ekonomi Amerika Serikat sedang makmur. Salah satu indikatornya, misalnya, indeks harga saham Dow Jones Industrial Average (DJIA) menembus angka 10.000 poin, sesuatu yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Bursa Efek New York (New York Stock Exchange atau NYSE) sampai dengan 1999. bandingkan, misalnya, dengan indeks harga gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ), yang hingga periode yang sama tidak pernah menyentuh 1.000 poin.

Pada saat yang hampir bersamaan, Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton—nama aslinya William Jefferson Clinton—menghadapi masalah serius atas kasus Monica Lewinsky, pekerja sukarela atau magang (intern) di Gedung Putih, Washington D.C., kediaman resmi kepala negara adidaya itu. hingga berakhir periode kedua kepresidenannya, Bill Clinton turun kekuasaan dengan mulus tanpa cacat secara politik.

Itulah sepenggal kisah Bill Clinton, Presiden Amerika Serikat yang pada waktu menulis autobiografinya diberi uang muka (down payment) sebesar US$ 12 juta oleh penerbitnya. Itu merupakan jumlah paling besar untuk sebuah buku yang belum selesai ditulis, menurut kalangan pers Amerika Serikat. Kini, buku setebal 957 halaman plus 44 indeks ini telah dapat dinikmati di Indonesia dengan harga sekitar Rp 300.000.

Bill Clinton bukan berasal dari keluarga kaya raya. Tapi, dia dapat mencapai posisi puncak di tangga politik Negeri Paman Sam itu. Inilah mungkin yang sering disebut sebagai cita-cita Amerika (American dream). Sebagai orang yang self-made man (orang yang berjuang sendiri dan sukses), Bill Clinton dapat mencapai karier politiknya dan sampai bertahan dua kali di kepresidenan Amerika Serikat serta meninggalkan keadaan ekonomi yang baik.

Dalam kehidupan pribadinya, Bill Clinton mengalami peristiwa yang mungkin sangat tidak mengenakkan. Ayahnya, William Jefferson Blythe Jr., meninggal ketika dirinya masih berada dalam kandungan ibunya, Virginia Cassidy. Ayahnya, yang berasal dari keluarga petani miskin dengan sembilan anak di Sherman, negara bagian Texas, meninggal karena kecelakaan mobil di Highway 60, di Sikeston, negara bagian Missouri, ketika sedang mengendarai mobil Buick buatan 1942 gara-gara ban kanan depannya pecah.

“Ia mati tenggelam (di pembuangan air), baru berumur dua puluh delapan tahun, menikah dua tahun delapan bulan, dan hanya tujuh bulan di antaranya dihabiskan bersama ibu saya,” tulis Bill Clinton di halaman 4.

Untungnya, kakek Bill Clinton dari pihak ibu bersedia mengasuh Bill kecil. Mungkin, itu lantaran Bill Clinton lahir pas pada ulang tahun kakek dari pihak ibunya, yaitu 19 Agustus 1946 pagi. Kemudian, ibunya menikah untuk kedua kalinya setelah ulang tahunnya yang ke-27 dengan Roger Clinton, pemilik dealer mobil Buick di New Orleans, pada Juni 1950 di Hot Springs. Ayah tirinya, ibunya, dan Bill sendiri akhirnya meninggalkan rumah kakek dari pihak ibunya dan tinggal di rumah ayah tirinya di Thirteen Street 321 di pojokan Walker Street. Sejak saat itulah, Bill mulai memanggil dirinya Billy Clinton.

Ternyata, tak mudah bagi Bill Clinton hidup dengan ayah tirinya, yang namanya dia pakai sebagai nama ayah. Sebab, sifat Roger Clinton keras. Sehingga, hubungan perkawinan antara ayah tirinya dan ibu kandungnya berlangsung sulit. Tapi, beginilah rupanya jalan hidup yang harus dilalui Bill Clinton untuk menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat.

Untuk perjalanan karier politik, Bill Clinton memulainya pada 1974 atau pada umur 28 tahun untuk menjadi anggota Kongres atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Itu tak mudah baginya. Apalagi, ini untuk pertama kalinya dia terjun ke dunia politik. Sebab, sebuah koran lokal memberitakan ibunya, yang tentu saja berkaitan dengan ayah kandungnya yang sudah wafat.

Ketika ibunya sedang minum kopi di tempat biasanya, dia dikejutkan seorang laki-laki yang mengatakan bahwa dia melihat ayah Bill Clinton sedang bertahan untuk bisa keluar dari tempat pembuangan air. Ibunya kemudan mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut, menangis dekat mobilnya, lalu menyeka air matanya, dan mulai berangkat bekerja. Tampaknya, Bill Clinton ingin menggambarkan betapa ibunya adalah sosok yang tegar menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Setahun kemudian, tepatnya pada 11 Oktober 1975, Bill Clinton menikahi Hillary Rodham, teman kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Arkansas. Sebelumnya, ketika mereka berdua selesai kuliah, Bill Clinton membawa Hillary jalan-jalan ke luar negeri, yaitu ke Inggris. Pada sore hari, saat matahari terbenam, di tepi Danau Ennerdale di Lake District, Inggris, Bill Clinton melamar Hillary Rodham untuk menikah. “Saya tidak percaya kalau saya dapat melamarnya,” katanya (halaman 201).

Peristiwa politik yang penting bagi Bill Clinton adalah pada 9 Januari 1979 ketika dilantik sebagai Gubernur Arkansas di negara bagian tempat dia dilahirkan. Pada 1992, dia maju untuk pencalonan Presiden Amerika Serikat dan berhasil menduduki kursi kepresidenan. Empat tahun kemudian, dia terpilih kembali menjadi Presiden Amerika Serikat untuk periode kedua hingga 2000. Pada masa kepresidenan yang kedua inilah, Bill Clinton menghadapi persoalan yang sangat pelik. Kasus affair-nya dengan Monica Lewinsky mencuat.

Untungnya, saat periode kedua kepresidenannya ini, keadaan ekonomi Amerika Serikat sedang baik. Bahkan, salah satu indikatornya, indeks harga saham di Bursa Efek New York menembus 10.000 poin. Ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah pasar modal di sana.

Tak heran kalau komisi yang dibentuk Senat untuk menyelidiki kasus affair tersebut tak berhasil meng-impeach Bill Clinton. Sebab, dengan prestasi indeks harga saham itu, artinya, banyak ibu rumah tangga yang menjadi kaya karena investasinya di saham. Tapi, kelak, hanya beda setahun setelah Bill Clinton turun dari kepresidenan dan digantikan George W. Bush, indeks turun drastis menjadi 8.000 pin gara-gara peristiwa penyerangan World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001.

Mengenai kasusnya dengan Monica Lewinsky, Bill Clinton tampaknya mencoba menceritakannya sejelas mungkin dalam buku ini. Monica mulai bekerja sebagai tenaga sukarela pada musim panas 1995. Dia menjadi staf mulai Desember 1995 hingga awal April 1996, yang kemudian dipindahkan ke Pentagon, Pusat Angkatan Bersenjata Amerika Serikat.

Bill mengaku, selama 10 bulan berikutnya, dia tidak bertemu dengan Monica. Tapi, selama kurun tersebut, dia mengaku berbicara dengannya lewat telepon. Dan, pada Februari 1997, Bill mengungkapkan bahwa Monica berada di antara tamu-tamunya pada waktu rekaman untuk pidato mingguannya.

Sesudah itu, Bill mengaku bertemu Monica selama 15 menit. Pada musim semi 1997, dia bertemu Monica kembali dan dia mengatakan pada gadis itu bahwa adalah suatu kesalahan untuk dirinya, untuk keluarganya, untuk gadis tersebut, dan dia tidak ingin melakukannya lagi. Bill mengungkapkan kepada gadis itu bahwa dia adalah gadis yang cerdas, seorang yang menarik, dan dapat mempunyai hidup yang baik. Kalau gadis itu menginginkannya, dia akan berusah menjadi temannya dan akan membantunya (halaman 774).

Monica masih terus berkunjung ke Gedung Putih. Bill bertemu dengannya pada acara-acara yang ada di sini. Bill mengaku bahwa tidak ada hal-hal yang senonoh yang terjadi. Pada Oktober 1997, Monica meminta Bill membantunya mencari pekerjaan di New York. Dan, Bill membantu gadis itu, Monica, aku Bill, menerima tawaran dua pekerjaan dan memilih salah satu di antaranya. Pada Desember 1997, Monica datang di Gedung Putih untuk mengucapkan selamat berpisah.

Bill Clinton menganggap bahwa yang dilakukannya dengan Monica Lewinsky adalah tidak bermoral dan sangat bodoh. “Saya sangat malu mengenai hal tersebut dan tidak ingin hal ini sampai keluar ke publik,” katanya.

Bill Clinton terus melakukan tugas-tugasnya sebagai Presiden Amerika Serikat. Tapi, dia kepepet untuk menyangkal apa yang terjadi kepada setiap orang, yakni istrinya (Hillary Clinton), putrinya (Chelsea Clinton), staf dan anggota kabinetnya, teman-temannya di Kongres, para temannya di kalangan pers, serta orang-orang Amerika Serikat. Selain perilakunya, yang sangat disesalkannya adalah dia telah membuat mereka semua keliru.

Sejak 1997, tulis Bill Clinton, dirinya telah dijuluki sebagai pembohong tentang segala hal. Padahal kenyataannya, sejak tahun itu, dirinya telah jujur dalam kehidupan publiknya dan mengenai keadaan keuangannya, sebagaimana diperlihatkan semua hasil penyelidikan. Tapi, dengan adanya kasus ini, dirinya merasa membuat kekeliruan kepada setiap orang mengenai kejelekan pribadinya. “Saya seperti hidup dalam mimpi buruk,” katanya (halaman 775).

Untungnya, dalam beberapa wawancaranya dengan stasiun televisi, Hillary Clinton mengatakan bahwa dia tidak percaya Bill Clinton melakukan skandal dengan Monica Lewinsky sebagaimana yang dituduhkan beberapa kalangan.

Kalau diamati, dalam perjalanan hidupnya, dari kecil hingga menjadi Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton tampaknya banyak ditolong wanita-wanita tegar, seperti ibunya, Virginia Cassidy dan istrinya, Hillary Rodham. Begitu juga dengan Monica Lewinsky. Meski membuat Bill Clinton kerepotan, gadis ini juga tegar, selain cerdas dan cantik. Dan, tanpanya, buku autobiografi Bill Clinton ini mungkin tidak akan sepopuler sekarang.

Click here to join ResensiBuku
Click to join ResensiBuku