Sunday, March 20, 2005

Filsafat Timur

Judul : Filsafat Timur: Pengantar ke Pemikiran-PemikiranTimur

Pengarang : Bagus Takwin

Penerbit : Jalasutra

Cetakan : II (Desember 2003)

Tebal buku : 177 hlm.

Dimensi buku : 19 x 12 x 1cm

Saya tertarik membaca buku ini gara-gara `Dunia Sophie' dan`KisahPi'. Dari Sophie saya belajar sejarah filsafat sedangkan dari Pisaya belajar melihat perbedaan agama sebagai sesuatu yang salingmelengkapi. Karena itulah, ketika melihat `Filsafat Timur'keinginan untuk memiliki dan membacanya menjadi tak tertahankanlagi.

Kalau diibaratkan mengikuti sebuah bagan alur mata kuliah,`FilsafatTimur' adalah sebuah mata kuliah dengan `Dunia Sophie'dan `KisahPi' sebagai mata kuliah prasyaratnya. Bagaimana tidak? Istilah-istilah dan aliran-aliran filsafat berikut filsuf-filsufnya(Aristoteles, David Hume, Kierkegard, Marx) dipakai tanpa penjelasanlebih lanjut dalam buku ini yang, untungnya, sudah dijelaskan olehAlberto—guru filsafat Sophie. Hanya beberapa filsuf Barat,sepertiHenri Berson dan Karl Jaspers, yang belum saya kenal.

Sedangkan ketika membaca Kisah Pi, kita akan dibuat takjub dengankeputusan Pi untuk memeluk tiga agama (Hindu, Kristen, Islam)sekaligus. Meskipun pada awalnya menyakitkan hati guru-guru agamanyadan memusingkan kedua orang tuanya, pada akhirnya pilihan Pi bisadimaklumi. Kurang lebih seperti Pi, dalam buku ini Bagus Takwin jugamempertimbangkan berbagai agama atau pemikiran Timur guna menemukankebenaran. Hanya saja keputusan Pi arasional dan sekonyong-konyong.Makanya, ketika Pi `diserang' oleh guru-guru agama, ibu, danayahnyaia menjawab, "Saya hanya ingin mencintai Tuhan". MungkinkalauBagus Takwin berada dalam posisi yang sama dengan Pi, ia akanmenjawab, "Agama mengajarkan kepatuhan; filsafat mengandalkankemampuan berpikir kritis...(hlm. 14)" dan kemudianmenambahkan, "Keterbukaan manusia terhadap segala sesuatu, itulahyang diharapkan akan tercapai nantinya. Dunia yang menyediakanbegitu banyak hal bukan untuk memisahkan satu dengan yang lainnya,melainkan untuk menyatukan semuanya dalam satu rajutan yang penuhwarna dan dinamika. (back cover)"

Dengan demikian, tampaknya filsafat menjadi daerah netral tempatorang bisa memperbincangkan agama tanpa menjadi sakit hati dansemoga tanpa harus saling bunuh. Sebabnya, dalam filsafat orangharus siap untuk meragukan, mempertanyakan, dan membongkar sampai keakar-akarnya, untuk kemudian mengkonstruksi pengetahuannya menjadipemikiran baru yang lebih masuk akal. Mengutip Bertrand Russell,Bagus Takwin menuturkan bahwa filsafat adalah sebuah wilayah takbertuan di antara ilmu dan teologi yang siap diserang oleh keduanya.Di sisi lain, filsafat juga memiliki kemungkinan untuk menyerangilmu dan teologi.

Kalau begitu, pemikiran Timur, yang kebanyakan berupa agama,mungkinkah dikategorikan filsafat, mengingat para pengikut pemikirTimur (baca: umat) biasanya hanya mengamalkan saja ajaran-ajaranagamanya? Memang dibutuhkan keterbukaan dan mawas diri untukberbagai modifikasi sehingga terhindar dari pembekuan pemikiranmenjadi ajaran dogmatis. Pikiran dan perbuatan perlu terlibat secaraintensif dalam pencapaian kebijaksanaan. Inilah filsafat dalampengertian para pemikir Timur seperti Lao Tze, Confucius, SidhartaGautama, paraf filsuf Hindu dan Islam. (hlm. 30)

Filsuf-filsuf Muslim, misalnya. Para Filsuf Muslim ternyata sudahmelakukan sintesis antara wahyu Islam, filsafat Aristotelian, danNeoplatonisme sejak abad IX Masehi. Bagi mereka, tidak ada nilaiyang lebih tinggi daripada kebenaran itu sendiri. Mengesankan sekalifilsuf-filsuf Muslim ini.

Tapi, dari sejumlah nama (Al Kindi, Al Razi, Al Farabi, Ibnu Rusyid,Suhrawardi, Mulla Sadra, dan Muhammad Iqbal) yang paling mengesankansaya adalah filsuf Muhammad Iqbal. Bukan karena beliau adalah doktorfilsafat dari Universitas Munich atau latar belakang pengetahuannyayang luas, dari Timur sampai ke Barat. Saya adalah orang awamfilsafat. Yang menarik, ego adalah titik tolak Iqbal dalam kajiannyatentang alam dan Tuhan. David Hume (yang filosofinya mirip ajaranBuddha) menolak adanya ego sebagai pusat integrasi berbagaipengalaman manusia. Menurut Iqbal, kesatuan persepsi, berbagaitindakan yang terarah pada satu tujuan, dan penggabungan berbagaipengetahuan sebagai pandangan yang terintegrasi, tidak mungkin adakalau tidak ada ego yang menyatukannya (hlm. 148). Iqbal jugamenolak pantheisme yang menekankan kepasifan dan penolakan egosebagai keutamaan. Sebagai gantinya ia menegaskan diri yang otentikadalah diri yang kuat, bersemangat, otonom (hlm. 151).

Padahal, menurut ajaran Buddha—satu-satunya yang saya ketahuisebagai perbandingan—penyebab dari penderitaan adalah keinginandanuntuk bebas dari penderitaan manusia harus membuang keinginan,menyangkalnya, memisahkan dari diri, dan tidak memberikan tempatbaginya dalam diri (hlm. 65-66). Dalam agama Buddha juga dikenalkonsep anatta yang dalam buku ini ditulis sebagai tanpa ego. Manusiaharus menerima dirinya tanpa ego, tanpa jati diri, tanpa jiwa supayabebas dari kegelisahan dan bisa hidup tenang dan tentram (hlm. 69).

Nah, mana yang benar? Saya tidak tahu. Kata Socrates, orang yangbijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa ia tidak tahu. Tapi,bukan itu yang saya maksud. Saya benar-benar tidak tahu. Yang sayatahu pasti buku ini menyenangkan sekali untuk teman berpikir.

***

Buku Pengantar ini terdiri dari tiga bagian: Sekilas Filsafat India,Sekilas Filsafat Cina, dan Sekilas Pemikiran Filsuf-filsuf Muslim.Seperti terlihat dari judul-judul tersebut penekanan yang diberikanpengarang adalah pada pemikiran-pemikiran Islam; mungkin karenapengarang sendiri adalah seorang Muslim atau mungkin karena asumsibahwa sebagian besar pembaca buku ini adalah Muslim. Pemaparanmengenai filsuf-filsuf Cina, terutama, kurang lengkap biladibandingkan buku `Alam Pikiran Cina'.

Bagus Takwin juga tidak memberikan kesimpulan apa-apa mengenaiperbedaan-perbedaan dalam pemikiran-pemikiran Timur. Ini karena—seperti yang tertulis di Penutup—yang diharapkan adalah untukmerangsang minat untuk mengkaji pemikiran Timur lebih jauh lagi.

Click here to join ResensiBuku
Click to join ResensiBuku