Wednesday, August 03, 2005

Peresensi Favorit Juli 2005: Yayat Cipasang

From: yayat cipasang
Date: Sun Jul 31, 2005 6:53 pm
Subject: Bisnis Seks di Singapura

"Jangan Mesumlah, Kita Ini Orang Singapura"

Judul : Bisnis Seks di Singapura
Judul Asli : No Money No Honey (a candid look at
sex-for-sale in Singapore)
Pengarang : David Brazil
Pengantar : Bondan Winarno
Cetakan : Pertama, Juni 2005
Penerbit : Pustaka Primatama
Tebal : xiv + 232 halaman

BUKU hasil reportase investigasi atau menurut
penulisnya disebut sebagai eksplorasi jurnalistik ini,
benar-benar mengungkap hipokrisi atau kemunafikan
Singapura. Selama ini Negeri Singa kerap disebut-sebut
sebagai negara paling bermoral. Boleh dikatakan juga
sebagai negara yang serba tidak. Tidak boleh menjual
permen karet, tidak boleh membuang sampah sembarangan
dan juga jelas-jelas tidak dengan pornografi dan
pornoaksi.

Tetapi buktinya? Pusat-pusat pelacuran dari yang kelas
bawah hingga yang elite, berkembang sesuai dengan
karakteristik pasar masing-masing. Dari mulai
pelacuran kelas gurem seperti di Geylang hingga
pelacuran di kawasan Orchard Road. Buku ini juga
menujukkan ternyata jumlah sentra pelacuran di
Singapura lebih banyak dibandingkan dengan Jakarta
yang dianggap "kurang bermoral". Fantastis!

Kemunafikan juga ditunjukkan Menteri Perdagangan dan
Industri Singapura George Yeo seperti dalam
pernyataannya kepada Asiaweek (April, 2000): "Kami
tidak mengiklankan prostitusi. Tapi tiap orang
Singapura tahu Geylang dan apa yang terjadi di
sana...." (hal. 3). Pernyataan ini tidak tegas.
Padahal dalam kenyataannya pelacuran di Singapura
sekarang tidak ada bedanya dengan konsep zaman
Raffles. Demi duit, uang dan fulus!. Kalau begini
masih pantaskah sebagian orang Singapura berucap:
"Jangan mesumlah, kita ini orang Singapura!"

Dirunut dari sejarahnya, prostitusi di Singapura sudah
menjadi lahan bisnis sejak Stamford Raffles memerintah
pada 1819. Saat itu Raffles sudah berpikir bahwa pulau
kecil itu akan menarik perhatian lelaki petualang dari
Asia. Dengan dalih untuk mengentaskan kemiskinan dan
mencari keuntungan, pelacuran pun legal sejak saat
itu.(hal 1)

Data paling mutakhir menyebutkan sedikitnya ada 6.000
pelacur di Singapura. Mereka tidak hanya warga
domestik tetapi para pendatang dari Thailand,
Malaysia, Filipina, India, Vietnam dan Indonesia.
Mereka ini punya tempat dan pasar berbeda. Pelacur
Thailand misalnya, target yang dibidik adalah para
pekerja konstruksi dari Negeri Gajah Putih. Tak jauh
berbeda, para pelacur dari India juga membidik pasar
laki-laki hidung belang keturunan atau pebisnis India.

Namun, David Brazil tidak menjelaskan target pasar
para pelacur asal Indonesia yang cukup dikenal mangkal
di Geylang tepatnya di antara Lorong 10/12 dan
sepanjang Talma Road. Para pelacur Indonesia yang
datang ke Singapura adalah mereka yang berangkat dari
Batam. Mereka biasanya berangkat ke Singapura
memanfaat izin berkunjung selama tiga hari.

Penghasilan pelacur Indonesia sejatinya adalah sangat
kecil hanya 1.000 dolar Singapura. Namun, penghasilan
itu akan menjadi besar ketika dikonversikan dengan
rupiah. Dalam analisisnya, David Brazil mengutip
laporan The Jakarta Post bahwa pelacuran di Indonesia
membludak termasuk di Singapura, Batam dan Bintan
karena terpuruknya perekonomian Indonesia
pascaruntuhnya rezim Soeharto.

#1

Dalam buku yang dilengkapi puluhan foto hitam putih
dan 16 halaman foto warna ini, David Brazil menelusuri
pusat-pusat pelacuran di Singapura seperti Geylang,
Orchard Road, Orchard Towers, Desker Road, Flanders
Square, dan Keong Saik Road. Wilayah ini oleh
pemerintah Singapura disebut kawasan lampu merah.

Para lonte selain mangkal di kawasan zona merah, juga
mereka dapat ditemukan di panti pijat, klab malam,
lobi hotel atau escort agencies (biro teman kencan)
yang iklannya marak di buku telepon. Mungkin kalau di
Indonesia iklannya mirip dengan iklan-iklan party line
di media cetak gurem yang memperlihatkan perempuan
cantik dengan pakaian minim berikut nomor telepon
genggam yang bisa dihubungi kapan pun.

Melacur demi uang dalam hasil penelusuran David Brazil
ternyata tidak hanya dilakukan para pendatang tetapi
juga wanita simpanan, remaja, mahasiswi, artis dan
model lokal. Namun, tentang keterlibatan model dan
artis dalam kegiatan prostitusi, David Brazil tidak
bisa memastikannya. Ia lebih menduga pemberitaan
tentang artis yang bisa dibayar untuk diajak tidur
hanya sensasi untuk popularitas sang artis.

Dalam satu bab khusus, David Brazil memuat 12 tulisan
hasil wawancara dengan pelacur yang mewakili asal,
suku dan pasar masing-masing. Dari mulai pelacur kelas
Geylang, wanita panggilan, hingga mahasiswi yang butuh
biaya untuk kuliah atau untuk sekadar belanja barang
mewah seperti produk Gucci, Luis Vuitton, atau Chanel.

#2

Wartawan senior Bondan Winarno dalam pengantar buku
ini meyakinkan bahwa laporan jurnalistik David Brazil
berbeda dengan tulisan para pewarta Indonesia yang
melaporkan sex-for-sale. Penulis buku ini tidak
terjebak menulis hal-hal seronok tentang dunia
pelacuran. Jurnalis kelahiran Dublin ini tahu benar
bahwa menulis laporan pelacuran itu harus
menyingkirkan imajinasi seksual jauh-jauh. (hal x)

Bila Anda sebelumnya telah membaca Jakarta Undercover
(sex n the city) karya Moammar Emka, saya jamin Anda
akan melihat sesuatu yang beda. Kendati sebagai
wartawan hiburan--FHM Singapura--David Brazil menulis
dengan konsep dan bukunya menjadi penting dibaca
karena kaya dengan data hasil riset. Ia tidak terjebak
untuk mengeksploitasi selera rendah (low taste)
pembacanya.[]

Jakarta, 18 Juli 2004

================
Yayat R Cipasang
kangyayat@gmail.com
http://yayat-cipasang.blogspot.com

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Click here to join ResensiBuku
Click to join ResensiBuku