Wednesday, August 10, 2005

Bill Clinton Book My Life

Bill Clinton Book My Life

My Life -- Bill Clinton

Dua hal sering dikaitkan dengan kepresidenan Bill Clinton, yaitu kondisi ekonomi Amerika Serikat yang baik dan kasus Monica Lewinsky yang menggemparkan. Tapi, mengapa Bill memakai nama keluarga ayah tirinya, bukan nama ayah biologisnya?

Ekonomi Amerika Serikat sedang makmur. Salah satu indikatornya, misalnya, indeks harga saham Dow Jones Industrial Average (DJIA) menembus angka 10.000 poin, sesuatu yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Bursa Efek New York (New York Stock Exchange atau NYSE) sampai dengan 1999. bandingkan, misalnya, dengan indeks harga gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ), yang hingga periode yang sama tidak pernah menyentuh 1.000 poin.

Pada saat yang hampir bersamaan, Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton—nama aslinya William Jefferson Clinton—menghadapi masalah serius atas kasus Monica Lewinsky, pekerja sukarela atau magang (intern) di Gedung Putih, Washington D.C., kediaman resmi kepala negara adidaya itu. hingga berakhir periode kedua kepresidenannya, Bill Clinton turun kekuasaan dengan mulus tanpa cacat secara politik.

Itulah sepenggal kisah Bill Clinton, Presiden Amerika Serikat yang pada waktu menulis autobiografinya diberi uang muka (down payment) sebesar US$ 12 juta oleh penerbitnya. Itu merupakan jumlah paling besar untuk sebuah buku yang belum selesai ditulis, menurut kalangan pers Amerika Serikat. Kini, buku setebal 957 halaman plus 44 indeks ini telah dapat dinikmati di Indonesia dengan harga sekitar Rp 300.000.

Bill Clinton bukan berasal dari keluarga kaya raya. Tapi, dia dapat mencapai posisi puncak di tangga politik Negeri Paman Sam itu. Inilah mungkin yang sering disebut sebagai cita-cita Amerika (American dream). Sebagai orang yang self-made man (orang yang berjuang sendiri dan sukses), Bill Clinton dapat mencapai karier politiknya dan sampai bertahan dua kali di kepresidenan Amerika Serikat serta meninggalkan keadaan ekonomi yang baik.

Dalam kehidupan pribadinya, Bill Clinton mengalami peristiwa yang mungkin sangat tidak mengenakkan. Ayahnya, William Jefferson Blythe Jr., meninggal ketika dirinya masih berada dalam kandungan ibunya, Virginia Cassidy. Ayahnya, yang berasal dari keluarga petani miskin dengan sembilan anak di Sherman, negara bagian Texas, meninggal karena kecelakaan mobil di Highway 60, di Sikeston, negara bagian Missouri, ketika sedang mengendarai mobil Buick buatan 1942 gara-gara ban kanan depannya pecah.

“Ia mati tenggelam (di pembuangan air), baru berumur dua puluh delapan tahun, menikah dua tahun delapan bulan, dan hanya tujuh bulan di antaranya dihabiskan bersama ibu saya,” tulis Bill Clinton di halaman 4.

Untungnya, kakek Bill Clinton dari pihak ibu bersedia mengasuh Bill kecil. Mungkin, itu lantaran Bill Clinton lahir pas pada ulang tahun kakek dari pihak ibunya, yaitu 19 Agustus 1946 pagi. Kemudian, ibunya menikah untuk kedua kalinya setelah ulang tahunnya yang ke-27 dengan Roger Clinton, pemilik dealer mobil Buick di New Orleans, pada Juni 1950 di Hot Springs. Ayah tirinya, ibunya, dan Bill sendiri akhirnya meninggalkan rumah kakek dari pihak ibunya dan tinggal di rumah ayah tirinya di Thirteen Street 321 di pojokan Walker Street. Sejak saat itulah, Bill mulai memanggil dirinya Billy Clinton.

Ternyata, tak mudah bagi Bill Clinton hidup dengan ayah tirinya, yang namanya dia pakai sebagai nama ayah. Sebab, sifat Roger Clinton keras. Sehingga, hubungan perkawinan antara ayah tirinya dan ibu kandungnya berlangsung sulit. Tapi, beginilah rupanya jalan hidup yang harus dilalui Bill Clinton untuk menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat.

Untuk perjalanan karier politik, Bill Clinton memulainya pada 1974 atau pada umur 28 tahun untuk menjadi anggota Kongres atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Itu tak mudah baginya. Apalagi, ini untuk pertama kalinya dia terjun ke dunia politik. Sebab, sebuah koran lokal memberitakan ibunya, yang tentu saja berkaitan dengan ayah kandungnya yang sudah wafat.

Ketika ibunya sedang minum kopi di tempat biasanya, dia dikejutkan seorang laki-laki yang mengatakan bahwa dia melihat ayah Bill Clinton sedang bertahan untuk bisa keluar dari tempat pembuangan air. Ibunya kemudan mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut, menangis dekat mobilnya, lalu menyeka air matanya, dan mulai berangkat bekerja. Tampaknya, Bill Clinton ingin menggambarkan betapa ibunya adalah sosok yang tegar menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Setahun kemudian, tepatnya pada 11 Oktober 1975, Bill Clinton menikahi Hillary Rodham, teman kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Arkansas. Sebelumnya, ketika mereka berdua selesai kuliah, Bill Clinton membawa Hillary jalan-jalan ke luar negeri, yaitu ke Inggris. Pada sore hari, saat matahari terbenam, di tepi Danau Ennerdale di Lake District, Inggris, Bill Clinton melamar Hillary Rodham untuk menikah. “Saya tidak percaya kalau saya dapat melamarnya,” katanya (halaman 201).

Peristiwa politik yang penting bagi Bill Clinton adalah pada 9 Januari 1979 ketika dilantik sebagai Gubernur Arkansas di negara bagian tempat dia dilahirkan. Pada 1992, dia maju untuk pencalonan Presiden Amerika Serikat dan berhasil menduduki kursi kepresidenan. Empat tahun kemudian, dia terpilih kembali menjadi Presiden Amerika Serikat untuk periode kedua hingga 2000. Pada masa kepresidenan yang kedua inilah, Bill Clinton menghadapi persoalan yang sangat pelik. Kasus affair-nya dengan Monica Lewinsky mencuat.

Untungnya, saat periode kedua kepresidenannya ini, keadaan ekonomi Amerika Serikat sedang baik. Bahkan, salah satu indikatornya, indeks harga saham di Bursa Efek New York menembus 10.000 poin. Ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah pasar modal di sana.

Tak heran kalau komisi yang dibentuk Senat untuk menyelidiki kasus affair tersebut tak berhasil meng-impeach Bill Clinton. Sebab, dengan prestasi indeks harga saham itu, artinya, banyak ibu rumah tangga yang menjadi kaya karena investasinya di saham. Tapi, kelak, hanya beda setahun setelah Bill Clinton turun dari kepresidenan dan digantikan George W. Bush, indeks turun drastis menjadi 8.000 pin gara-gara peristiwa penyerangan World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001.

Mengenai kasusnya dengan Monica Lewinsky, Bill Clinton tampaknya mencoba menceritakannya sejelas mungkin dalam buku ini. Monica mulai bekerja sebagai tenaga sukarela pada musim panas 1995. Dia menjadi staf mulai Desember 1995 hingga awal April 1996, yang kemudian dipindahkan ke Pentagon, Pusat Angkatan Bersenjata Amerika Serikat.

Bill mengaku, selama 10 bulan berikutnya, dia tidak bertemu dengan Monica. Tapi, selama kurun tersebut, dia mengaku berbicara dengannya lewat telepon. Dan, pada Februari 1997, Bill mengungkapkan bahwa Monica berada di antara tamu-tamunya pada waktu rekaman untuk pidato mingguannya.

Sesudah itu, Bill mengaku bertemu Monica selama 15 menit. Pada musim semi 1997, dia bertemu Monica kembali dan dia mengatakan pada gadis itu bahwa adalah suatu kesalahan untuk dirinya, untuk keluarganya, untuk gadis tersebut, dan dia tidak ingin melakukannya lagi. Bill mengungkapkan kepada gadis itu bahwa dia adalah gadis yang cerdas, seorang yang menarik, dan dapat mempunyai hidup yang baik. Kalau gadis itu menginginkannya, dia akan berusah menjadi temannya dan akan membantunya (halaman 774).

Monica masih terus berkunjung ke Gedung Putih. Bill bertemu dengannya pada acara-acara yang ada di sini. Bill mengaku bahwa tidak ada hal-hal yang senonoh yang terjadi. Pada Oktober 1997, Monica meminta Bill membantunya mencari pekerjaan di New York. Dan, Bill membantu gadis itu, Monica, aku Bill, menerima tawaran dua pekerjaan dan memilih salah satu di antaranya. Pada Desember 1997, Monica datang di Gedung Putih untuk mengucapkan selamat berpisah.

Bill Clinton menganggap bahwa yang dilakukannya dengan Monica Lewinsky adalah tidak bermoral dan sangat bodoh. “Saya sangat malu mengenai hal tersebut dan tidak ingin hal ini sampai keluar ke publik,” katanya.

Bill Clinton terus melakukan tugas-tugasnya sebagai Presiden Amerika Serikat. Tapi, dia kepepet untuk menyangkal apa yang terjadi kepada setiap orang, yakni istrinya (Hillary Clinton), putrinya (Chelsea Clinton), staf dan anggota kabinetnya, teman-temannya di Kongres, para temannya di kalangan pers, serta orang-orang Amerika Serikat. Selain perilakunya, yang sangat disesalkannya adalah dia telah membuat mereka semua keliru.

Sejak 1997, tulis Bill Clinton, dirinya telah dijuluki sebagai pembohong tentang segala hal. Padahal kenyataannya, sejak tahun itu, dirinya telah jujur dalam kehidupan publiknya dan mengenai keadaan keuangannya, sebagaimana diperlihatkan semua hasil penyelidikan. Tapi, dengan adanya kasus ini, dirinya merasa membuat kekeliruan kepada setiap orang mengenai kejelekan pribadinya. “Saya seperti hidup dalam mimpi buruk,” katanya (halaman 775).

Untungnya, dalam beberapa wawancaranya dengan stasiun televisi, Hillary Clinton mengatakan bahwa dia tidak percaya Bill Clinton melakukan skandal dengan Monica Lewinsky sebagaimana yang dituduhkan beberapa kalangan.

Kalau diamati, dalam perjalanan hidupnya, dari kecil hingga menjadi Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton tampaknya banyak ditolong wanita-wanita tegar, seperti ibunya, Virginia Cassidy dan istrinya, Hillary Rodham. Begitu juga dengan Monica Lewinsky. Meski membuat Bill Clinton kerepotan, gadis ini juga tegar, selain cerdas dan cantik. Dan, tanpanya, buku autobiografi Bill Clinton ini mungkin tidak akan sepopuler sekarang.

Wednesday, August 03, 2005

Peresensi Favorit Juli 2005: Yayat Cipasang

From: yayat cipasang
Date: Sun Jul 31, 2005 6:53 pm
Subject: Bisnis Seks di Singapura

"Jangan Mesumlah, Kita Ini Orang Singapura"

Judul : Bisnis Seks di Singapura
Judul Asli : No Money No Honey (a candid look at
sex-for-sale in Singapore)
Pengarang : David Brazil
Pengantar : Bondan Winarno
Cetakan : Pertama, Juni 2005
Penerbit : Pustaka Primatama
Tebal : xiv + 232 halaman

BUKU hasil reportase investigasi atau menurut
penulisnya disebut sebagai eksplorasi jurnalistik ini,
benar-benar mengungkap hipokrisi atau kemunafikan
Singapura. Selama ini Negeri Singa kerap disebut-sebut
sebagai negara paling bermoral. Boleh dikatakan juga
sebagai negara yang serba tidak. Tidak boleh menjual
permen karet, tidak boleh membuang sampah sembarangan
dan juga jelas-jelas tidak dengan pornografi dan
pornoaksi.

Tetapi buktinya? Pusat-pusat pelacuran dari yang kelas
bawah hingga yang elite, berkembang sesuai dengan
karakteristik pasar masing-masing. Dari mulai
pelacuran kelas gurem seperti di Geylang hingga
pelacuran di kawasan Orchard Road. Buku ini juga
menujukkan ternyata jumlah sentra pelacuran di
Singapura lebih banyak dibandingkan dengan Jakarta
yang dianggap "kurang bermoral". Fantastis!

Kemunafikan juga ditunjukkan Menteri Perdagangan dan
Industri Singapura George Yeo seperti dalam
pernyataannya kepada Asiaweek (April, 2000): "Kami
tidak mengiklankan prostitusi. Tapi tiap orang
Singapura tahu Geylang dan apa yang terjadi di
sana...." (hal. 3). Pernyataan ini tidak tegas.
Padahal dalam kenyataannya pelacuran di Singapura
sekarang tidak ada bedanya dengan konsep zaman
Raffles. Demi duit, uang dan fulus!. Kalau begini
masih pantaskah sebagian orang Singapura berucap:
"Jangan mesumlah, kita ini orang Singapura!"

Dirunut dari sejarahnya, prostitusi di Singapura sudah
menjadi lahan bisnis sejak Stamford Raffles memerintah
pada 1819. Saat itu Raffles sudah berpikir bahwa pulau
kecil itu akan menarik perhatian lelaki petualang dari
Asia. Dengan dalih untuk mengentaskan kemiskinan dan
mencari keuntungan, pelacuran pun legal sejak saat
itu.(hal 1)

Data paling mutakhir menyebutkan sedikitnya ada 6.000
pelacur di Singapura. Mereka tidak hanya warga
domestik tetapi para pendatang dari Thailand,
Malaysia, Filipina, India, Vietnam dan Indonesia.
Mereka ini punya tempat dan pasar berbeda. Pelacur
Thailand misalnya, target yang dibidik adalah para
pekerja konstruksi dari Negeri Gajah Putih. Tak jauh
berbeda, para pelacur dari India juga membidik pasar
laki-laki hidung belang keturunan atau pebisnis India.

Namun, David Brazil tidak menjelaskan target pasar
para pelacur asal Indonesia yang cukup dikenal mangkal
di Geylang tepatnya di antara Lorong 10/12 dan
sepanjang Talma Road. Para pelacur Indonesia yang
datang ke Singapura adalah mereka yang berangkat dari
Batam. Mereka biasanya berangkat ke Singapura
memanfaat izin berkunjung selama tiga hari.

Penghasilan pelacur Indonesia sejatinya adalah sangat
kecil hanya 1.000 dolar Singapura. Namun, penghasilan
itu akan menjadi besar ketika dikonversikan dengan
rupiah. Dalam analisisnya, David Brazil mengutip
laporan The Jakarta Post bahwa pelacuran di Indonesia
membludak termasuk di Singapura, Batam dan Bintan
karena terpuruknya perekonomian Indonesia
pascaruntuhnya rezim Soeharto.

#1

Dalam buku yang dilengkapi puluhan foto hitam putih
dan 16 halaman foto warna ini, David Brazil menelusuri
pusat-pusat pelacuran di Singapura seperti Geylang,
Orchard Road, Orchard Towers, Desker Road, Flanders
Square, dan Keong Saik Road. Wilayah ini oleh
pemerintah Singapura disebut kawasan lampu merah.

Para lonte selain mangkal di kawasan zona merah, juga
mereka dapat ditemukan di panti pijat, klab malam,
lobi hotel atau escort agencies (biro teman kencan)
yang iklannya marak di buku telepon. Mungkin kalau di
Indonesia iklannya mirip dengan iklan-iklan party line
di media cetak gurem yang memperlihatkan perempuan
cantik dengan pakaian minim berikut nomor telepon
genggam yang bisa dihubungi kapan pun.

Melacur demi uang dalam hasil penelusuran David Brazil
ternyata tidak hanya dilakukan para pendatang tetapi
juga wanita simpanan, remaja, mahasiswi, artis dan
model lokal. Namun, tentang keterlibatan model dan
artis dalam kegiatan prostitusi, David Brazil tidak
bisa memastikannya. Ia lebih menduga pemberitaan
tentang artis yang bisa dibayar untuk diajak tidur
hanya sensasi untuk popularitas sang artis.

Dalam satu bab khusus, David Brazil memuat 12 tulisan
hasil wawancara dengan pelacur yang mewakili asal,
suku dan pasar masing-masing. Dari mulai pelacur kelas
Geylang, wanita panggilan, hingga mahasiswi yang butuh
biaya untuk kuliah atau untuk sekadar belanja barang
mewah seperti produk Gucci, Luis Vuitton, atau Chanel.

#2

Wartawan senior Bondan Winarno dalam pengantar buku
ini meyakinkan bahwa laporan jurnalistik David Brazil
berbeda dengan tulisan para pewarta Indonesia yang
melaporkan sex-for-sale. Penulis buku ini tidak
terjebak menulis hal-hal seronok tentang dunia
pelacuran. Jurnalis kelahiran Dublin ini tahu benar
bahwa menulis laporan pelacuran itu harus
menyingkirkan imajinasi seksual jauh-jauh. (hal x)

Bila Anda sebelumnya telah membaca Jakarta Undercover
(sex n the city) karya Moammar Emka, saya jamin Anda
akan melihat sesuatu yang beda. Kendati sebagai
wartawan hiburan--FHM Singapura--David Brazil menulis
dengan konsep dan bukunya menjadi penting dibaca
karena kaya dengan data hasil riset. Ia tidak terjebak
untuk mengeksploitasi selera rendah (low taste)
pembacanya.[]

Jakarta, 18 Juli 2004

================
Yayat R Cipasang
kangyayat@gmail.com
http://yayat-cipasang.blogspot.com

Sunday, July 31, 2005

Negosiasi untuk Segala Situasi -- Herb Cohen

Negosiasi Untuk Segala Situasi – Herb Cohen

SAMPUL BELAKANG

Negosiasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada dasarnya, hampir setiap waktu kita terlibat dengan negosiasi. Suami saling berkomunikasi dengan istri dan anggota keluarga, bisa dimaknai bernegosiasi.

Negosiasi bisa pula terjadi dengan rekanan bisnis, birokrat, kerabat, sahabat, dan sebagainya. Dalam arus zaman yang mengglobal ini, negosiasi tidak harus bertatap langsung atau bersemuka. Sudah tersedia media untuk menunjang semua itu seperti telepon, e-mail, atau internet.

Dalam negosiasi terkandung unsur informasi, waktu, dan kekuatan (pikiran). Ada berbagai tipe negosiasi yang harus diketahui para negosiator. Anda ingin menjadi negosiator andal? Buku ini akan menjadi mitra bagi Anda yang mau sukses bernegosiasi dalam segala situasi.

Judul : Negosiasi untuk Segala Situasi
Judul asli : You Can Negotiate Anything
Penyadur : Padmadriya Anggrahita C
Penerbit : Dahara Prize Semarang
Cetakan : Pertama 2003
Tebal buku : vi + 164


Orang bernegosiasi pasti demi satu dari dua tujuan: Menang-Kalah, atau Menang-Menang. Tentu tidak ada yang mau menerima hasil Kalah-Menang, siapa pun orangnya. Namun, dalam hubungan yang sifatnya jangka-pendek, (dan kebanyakan hubungan sifatnya jangka pendek) orang akan cenderung mengambil ancang-ancang demi Menang-Kalah karena takut akan hasil Kalah-Menang. Ironisnya, sikap demikian justru seringkali menghasilkan Kalah-Kalah bagi kedua belah pihak. Zero Sum Game.

Maka dari itu, perlu sekali membangun hubungan jangka panjang. Cohen menyebut tiga aktivitas penting berkaitan dengan membangun hubungan jangka panjang:
1. membangun kepercayaan
2. membuat komitmen
3. berhadapan dengan oposisi
Inti dari ketiga aktivitas di atas adalah, pertama-tama, jangan menyakiti hati orang lain, berusahalah apapun situasinya. Caranya? Ingat-ingatlah bahwa negosiasi adalah permainan.
‘Thomas Jefferson sering menyinggung mengenai sikap seperti ini ketika dia berkata, “Tiada suatu apapun yang memberi seseorang suatu keuntungan yang begitu besar melebihi orang lain seperti selalu tetap bersikap tenang dalam segala situasi. Tetaplah berkata kepada diri Anda sendiri lagi dan lagi, Ini adalah suatu permainan.” (hlm. 107)’
Setelah itu, setelah dua belah pihak (atau lebih) tidak lagi saling mempertahankan gengsi dengan menyerang satu sama lain, mempertahankan ego masing-masing dengan emosional, negosiasi berpeluang menghasilkan solusi Menang-Menang.

Tidak jauh dari apa yang pernah saya baca dari Stephen Covey (atau jangan-jangan Stephen Covey meminjam ide Herb Cohen?) tujuan Cohen dalam buku ini adalah meyakinkan bahwa Menang-Menang adalah yang terbaik dan karenanya layak diperjuangkan sekalipun pada mulanya kelihatan tidak efisien. Ini adalah kebiasaan 4, 5, dan 6 dalam buku Covey yaitu: Berpikir Menang-Menang, Dengarkan dulu baru minta didengarkan, dan Wujudkan Sinergi.

Tentang mewujudkan sinergi, dalam dua contoh yang diberikan oleh Cohen dalam buku ini: kasus keluarga yang berlibur dan kasus hubungan bos-karyawan, saya merasa solusinya agak terlalu utopis. Kasus keluarga yang berlibur: bagaimana menemukan satu tempat yang bisa memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti suami/ayah yang ingin bermain golf, tidak berpakaian rapi untuk makan malam, dan menghindari pengaturan suhu udara dan kelembaban; ibu/istri yang ingin bermain tenis, makan malam di tempat mewah, tidak harus menyetir mobil; anak bungsu yang ingin pergi ke daerah yang bergunung-gunung; anak kedua ingin berenang; dan anak tertua ingin belajar menghadapi tes. Menemukan sebuah tempat berlibur yang tanpa mengorbankan satu pun kepentingan dari semua pihak tersebut terasa mirip permainan rubik (mengembalikan semua warna yang sudah terlanjur ruwet ke 6 sisi kubus seperti sediakala).

Kasus hubungan bos-karyawan: tawar-menawar gaji antara bos (30.000 dollar) karyawan (50.000 dolar) dengan solusi gaji 30.000 dolara plus berbagai tunjangan seperti sebuah mobil, pembagian keuntungan, biaya pengobatan gratis, tambahan waktu kecil, dan lain-lain total dua puluh lima poin. Saya berpikir-pikir sendiri, bagaimana bossnya bisa menyediakan semua tunjangan tersebut dan tidak kehilangan uang lebih besar?

Tentu saja, ujung-ujungnya, negosiasi bergantung pada: informasi, waktu, dan kekuatan. Dengan kata lain tantangannya adalah: Bisakah anda menemukan informasi yang anda butuhkan (yang dapat memecahkan masalah bersama) dalam waktu yang relatif singkat, dan kekuatan yang relatif terbatas? Rasanya tidak gampang. Mungkin karena tidak semua orang mempunyai informasi, waktu, dan kekuatan yang memadai, maka kebanyakan orang menjadi negosiator tipe Soviet (istilah pengarang yang kelihatannnya dibuat di era perang dingin USA-USSR? :D), tipe yang selalu menginginkan Menang-Kalah bagi dirinya, dan Kalah-Menang bagi orang lain.

Tuesday, July 19, 2005

So mote it be!

So mote it be!

Monday, July 18, 2005

Quarter Life Fear -- Primadonna Angela

Judul : Quarter life fear
Pengarang : Primadonna Angela
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I (Juli 2005)
Tebal : 224 hlm.


“Sembilan bulan lebih Mama mengandungmu. Menyusuimu. Mengurus segala macam keperluanmu. Membesarkan dirimu dengan susah payah. Lalu sekarang kamu berkata bahwa kamu takut merepotkan Mama? Oh, anakku, betapa sedikit engkau memahami ibumu, Naaaaak...”Air mata bergelimpangan di mana-mana. Aku sampai harus menghindar agar tidak kecipratan.

”Mama kan pengen ngebantu kamu, Nda. Mbok ya diterima, gitu. Ditolak itu kan nggak enak.”

Alkisah, di kota Bandung hidup seorang gadis gemuk bernama Belinda, yang bekerja di sebuah institusi pendidikan anak. Hidupnya terasa bagaikan tragedi, karena Mama Belinda seorang yang cantik (dan juga eksentrik) sedangkan Papanya seorang pengusaha yang sukses, sementara dirinya sendiri tidak mewarisi keunggulan kedua orang tuanya. Terkadang ia takut dirinya ternyata anak adopsi. Terkadang ia malah sebaliknya bersyukur kalau-kalau dirinya benar-benar anak adopsi, agar ia bebas dari tekanan untuk menyamai orang tuanya.

Belinda juga memiliki seorang sahabat sekaligus tetangga bernama Ine. Dengan Ine sejak bayi hingga memasuki dunia kerja Belinda selalu berbagi suka duka hidup. Mereka bahkan memiliki selimut persaudaraan, pertanda bahwa hubungan mereka sangat dekat.
Begitu dekat, sampai-sampai dengan santainya Ine tega berkata, “Lu tuh gak gendut-gendut amat. Seperti kata Garfield kan, bukannya overweight, tapi undertall.”

Yah, begitulah. Belinda memang tidak punya kecantikan, kecerdasan, dan kepribadian ala Miss Universe. Sedangkan, Ine, seperti Mama Belinda, berparas cantik, selalu jadi juara umum di sekolah, penampilannya trendy, gampang gonta-ganti pacar, dan karirnya jauh lebih moncer. (Jadinya Ine juga lebih mampu shopping.) Satu lagi, mereka berdua entah bagaimana dapat tetap langsing tanpa peduli apa yang mereka telan sementara Belinda harus mati-matian diet agar bisa langsing.

Tidak pernah bisa menjadi seperti Mama dan Ine, Belinda menjadi terobsesi pada mereka berdua. Sekarang Belinda sudah 25 tahun, karirnya mentok sebagai pengajar paruh waktu, dan belum punya pendamping hidup. Dunia yang kejam tampaknya enggan memberikan excuse dan waktu lagi pada Belinda dan segala kekurangannya. Belinda merasa tak berdaya, dan sebagai akibatnya, pada suatu pagi seorang dokter memvonis Belinda:
“Anak ibu kena penyakit quarter life fear. Ia tidak mau ulang tahunnya dirayakan.”
Mungkinkah Belinda meraih apa yang diinginkannya dalam hidup ini? Baca sendiri novel karya ibu satu anak ini dan bersiap-siaplah untuk plot yang, meminjam istilah Pak Arswendo, meledak dengan lembut.

Quarter Life Fear, bukan saja sebuah novel komedi yang menghibur tapi juga sekaligus mengobati jiwa dalam suatu masyarakat yang kecanduan gengsi, adu pamer dalam segala situasi dan kondisi. Jika dari buku Lifestyle David Chaney, dapat disimpulkan bahwa masyarakat sekarang adalah potret masyarakat pesolek, masyarakat yang
berprinsip "aku bergaya maka aku ada maka dari buku ini pesan pengarangnya kebalikannya: Seperti Belinda, setiap orang, saya yakin, berhak untuk berbahagia dengan jalannya sendiri. Wah, saya merasa dikuatkan di hati setelah membaca novel ini. Semoga saja saya juga punya ‘quarter life luck’ seperti Belinda.

Thursday, April 21, 2005

Tentang milis ResensiBuku

Milis ResensiBuku adalah sebuah milis yang dipersembahkan bagi pecinta dunia buku. Kategori buku yang diresensikan terutama novel (fantasi,chicklit,Grisham, dsb.). Tetapi ada juga resensi buku (oto)biografi, pendidikan, parenting, psikologi, pengembangan diri, leadership, komputer, sospol, bisnis, manajemen,komunikasi, organisasi, dan filsafat. Di sini para anggota dapat memberikan komentar atau berdiskusi.

Motto milis ResensiBuku adalah "Berbagi kesenangan membaca melalui kenikmatan menulis."

Oleh karena itu, keanggotaan terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca dan menulis resensi buku. Juga terbuka untuk anggota Bearbookstore dengan pembelian buku minimal sekali transaksi dalam 6 bulan . Boleh juga bantu lewat www.tokobagus.com (jalasutra.tokobagus.com, gagasmedia.tokobagus.com, resensibuku.tokobagus.com)

Sunday, March 20, 2005

Filsafat Timur

Judul : Filsafat Timur: Pengantar ke Pemikiran-PemikiranTimur

Pengarang : Bagus Takwin

Penerbit : Jalasutra

Cetakan : II (Desember 2003)

Tebal buku : 177 hlm.

Dimensi buku : 19 x 12 x 1cm

Saya tertarik membaca buku ini gara-gara `Dunia Sophie' dan`KisahPi'. Dari Sophie saya belajar sejarah filsafat sedangkan dari Pisaya belajar melihat perbedaan agama sebagai sesuatu yang salingmelengkapi. Karena itulah, ketika melihat `Filsafat Timur'keinginan untuk memiliki dan membacanya menjadi tak tertahankanlagi.

Kalau diibaratkan mengikuti sebuah bagan alur mata kuliah,`FilsafatTimur' adalah sebuah mata kuliah dengan `Dunia Sophie'dan `KisahPi' sebagai mata kuliah prasyaratnya. Bagaimana tidak? Istilah-istilah dan aliran-aliran filsafat berikut filsuf-filsufnya(Aristoteles, David Hume, Kierkegard, Marx) dipakai tanpa penjelasanlebih lanjut dalam buku ini yang, untungnya, sudah dijelaskan olehAlberto—guru filsafat Sophie. Hanya beberapa filsuf Barat,sepertiHenri Berson dan Karl Jaspers, yang belum saya kenal.

Sedangkan ketika membaca Kisah Pi, kita akan dibuat takjub dengankeputusan Pi untuk memeluk tiga agama (Hindu, Kristen, Islam)sekaligus. Meskipun pada awalnya menyakitkan hati guru-guru agamanyadan memusingkan kedua orang tuanya, pada akhirnya pilihan Pi bisadimaklumi. Kurang lebih seperti Pi, dalam buku ini Bagus Takwin jugamempertimbangkan berbagai agama atau pemikiran Timur guna menemukankebenaran. Hanya saja keputusan Pi arasional dan sekonyong-konyong.Makanya, ketika Pi `diserang' oleh guru-guru agama, ibu, danayahnyaia menjawab, "Saya hanya ingin mencintai Tuhan". MungkinkalauBagus Takwin berada dalam posisi yang sama dengan Pi, ia akanmenjawab, "Agama mengajarkan kepatuhan; filsafat mengandalkankemampuan berpikir kritis...(hlm. 14)" dan kemudianmenambahkan, "Keterbukaan manusia terhadap segala sesuatu, itulahyang diharapkan akan tercapai nantinya. Dunia yang menyediakanbegitu banyak hal bukan untuk memisahkan satu dengan yang lainnya,melainkan untuk menyatukan semuanya dalam satu rajutan yang penuhwarna dan dinamika. (back cover)"

Dengan demikian, tampaknya filsafat menjadi daerah netral tempatorang bisa memperbincangkan agama tanpa menjadi sakit hati dansemoga tanpa harus saling bunuh. Sebabnya, dalam filsafat orangharus siap untuk meragukan, mempertanyakan, dan membongkar sampai keakar-akarnya, untuk kemudian mengkonstruksi pengetahuannya menjadipemikiran baru yang lebih masuk akal. Mengutip Bertrand Russell,Bagus Takwin menuturkan bahwa filsafat adalah sebuah wilayah takbertuan di antara ilmu dan teologi yang siap diserang oleh keduanya.Di sisi lain, filsafat juga memiliki kemungkinan untuk menyerangilmu dan teologi.

Kalau begitu, pemikiran Timur, yang kebanyakan berupa agama,mungkinkah dikategorikan filsafat, mengingat para pengikut pemikirTimur (baca: umat) biasanya hanya mengamalkan saja ajaran-ajaranagamanya? Memang dibutuhkan keterbukaan dan mawas diri untukberbagai modifikasi sehingga terhindar dari pembekuan pemikiranmenjadi ajaran dogmatis. Pikiran dan perbuatan perlu terlibat secaraintensif dalam pencapaian kebijaksanaan. Inilah filsafat dalampengertian para pemikir Timur seperti Lao Tze, Confucius, SidhartaGautama, paraf filsuf Hindu dan Islam. (hlm. 30)

Filsuf-filsuf Muslim, misalnya. Para Filsuf Muslim ternyata sudahmelakukan sintesis antara wahyu Islam, filsafat Aristotelian, danNeoplatonisme sejak abad IX Masehi. Bagi mereka, tidak ada nilaiyang lebih tinggi daripada kebenaran itu sendiri. Mengesankan sekalifilsuf-filsuf Muslim ini.

Tapi, dari sejumlah nama (Al Kindi, Al Razi, Al Farabi, Ibnu Rusyid,Suhrawardi, Mulla Sadra, dan Muhammad Iqbal) yang paling mengesankansaya adalah filsuf Muhammad Iqbal. Bukan karena beliau adalah doktorfilsafat dari Universitas Munich atau latar belakang pengetahuannyayang luas, dari Timur sampai ke Barat. Saya adalah orang awamfilsafat. Yang menarik, ego adalah titik tolak Iqbal dalam kajiannyatentang alam dan Tuhan. David Hume (yang filosofinya mirip ajaranBuddha) menolak adanya ego sebagai pusat integrasi berbagaipengalaman manusia. Menurut Iqbal, kesatuan persepsi, berbagaitindakan yang terarah pada satu tujuan, dan penggabungan berbagaipengetahuan sebagai pandangan yang terintegrasi, tidak mungkin adakalau tidak ada ego yang menyatukannya (hlm. 148). Iqbal jugamenolak pantheisme yang menekankan kepasifan dan penolakan egosebagai keutamaan. Sebagai gantinya ia menegaskan diri yang otentikadalah diri yang kuat, bersemangat, otonom (hlm. 151).

Padahal, menurut ajaran Buddha—satu-satunya yang saya ketahuisebagai perbandingan—penyebab dari penderitaan adalah keinginandanuntuk bebas dari penderitaan manusia harus membuang keinginan,menyangkalnya, memisahkan dari diri, dan tidak memberikan tempatbaginya dalam diri (hlm. 65-66). Dalam agama Buddha juga dikenalkonsep anatta yang dalam buku ini ditulis sebagai tanpa ego. Manusiaharus menerima dirinya tanpa ego, tanpa jati diri, tanpa jiwa supayabebas dari kegelisahan dan bisa hidup tenang dan tentram (hlm. 69).

Nah, mana yang benar? Saya tidak tahu. Kata Socrates, orang yangbijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa ia tidak tahu. Tapi,bukan itu yang saya maksud. Saya benar-benar tidak tahu. Yang sayatahu pasti buku ini menyenangkan sekali untuk teman berpikir.

***

Buku Pengantar ini terdiri dari tiga bagian: Sekilas Filsafat India,Sekilas Filsafat Cina, dan Sekilas Pemikiran Filsuf-filsuf Muslim.Seperti terlihat dari judul-judul tersebut penekanan yang diberikanpengarang adalah pada pemikiran-pemikiran Islam; mungkin karenapengarang sendiri adalah seorang Muslim atau mungkin karena asumsibahwa sebagian besar pembaca buku ini adalah Muslim. Pemaparanmengenai filsuf-filsuf Cina, terutama, kurang lengkap biladibandingkan buku `Alam Pikiran Cina'.

Bagus Takwin juga tidak memberikan kesimpulan apa-apa mengenaiperbedaan-perbedaan dalam pemikiran-pemikiran Timur. Ini karena—seperti yang tertulis di Penutup—yang diharapkan adalah untukmerangsang minat untuk mengkaji pemikiran Timur lebih jauh lagi.

Click here to join ResensiBuku
Click to join ResensiBuku